Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 April 2013

Perempuan Indonesia Mendapat Penghargaan Lingkungan Hidup Goldman

Aleta Baun (Foto: Goldman Environmental Prize)
Seorang perempuan Indonesia bernama Aleta Baun menjadi salah satu dari enam pemenang penghargaan Goldman Prize. Aleta Baun atau Mama Aleta berhak mendapat $150 ribu atau Rp1,4 miliar yang diberikan pertama kali dalam upacara khusus, Senin, 15 April 2013 di San Francisco Opera House.

Pernyataan resmi dari Goldman Prize menyebut prestasi Aleta adalah, "Dengan mengorganisir ratusan warga desa setempat untuk secara damai menduduki tempat-tempat penambangan marmer dalam suatu “protes sambil menenun,” Aleta Baun menghentikan pengrusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis di pulau Timor."

Menurut biografi Aleta di situs Goldman Prize, pada 1980an pemerintah di Mollo, Timor Barat, memberikan izin pada perusahaan pertambangan marmer untuk memotong batu-batu marmer dari pegunungan di kawasan Mollo. Pemerintah setempat melakukannya tanpa meminta izin penduduk lokal. Seiring dengan semakin banyaknya penggundulan hutan serta pertambangan, longsor menjadi hal biasa, begitu juga dengan polusi air dan kesusahan hidup bagi penduduk desa di hilir sungai. 

Mama Aleta melihat aktivitas pertambangan ini sebagai ancaman pada hak hidup dan bertahan hidup orang-orang Mollo. Ia pun mengawali protes dengan sebuah gerakan kecil yang diikuti oleh tiga perempuan lain, mereka berjalan kaki dari satu desa terpencil ke desa lainnya, yang kadang-kadang butuh 6 jam berjalan kaki.

Ia pernah menjadi target pembunuhan namun selamat, dan Mama Aleta pun bersembunyi di hutan dengan bayinya. Penduduk desa lain sering ditangkapi dan dipukuli.

Protes Mama Aleta berpuncak pada 150 perempuan menduduki tambang marmer sambil terus-terus menenenun kain tradisional Timor sebagai aksi protes. Alasannya, karena perempuanlah yang paling bertanggungjawab mencari makanan, pewarna, serta obat-obatan dari pegunungan, maka penting bagi mereka memimpin kampanye. Sementara kaum perempuannya melakukan aksi protes, para laki-laki memberi dukungan rumah tangga di rumah dengan memasak, membersihkan, serta merawat anak-anak.

Karena aksi damai dan terus-menerus dari kelompok Mama Aleta, penambangan marmer menjadi semakin susah dilakukan. Pemahaman publik pun terus tumbuh, dan pemerintah Indonesia akhirnya sadar. Pada 2010, perusahaan tambang menanggapi tekanan dan berhenti beroperasi di empat lokasi teritori Mollo dan meninggalkan kawasan tersebut.

Aleta Baun kini bekerjasama dengan komunitas di Timor Barat untuk memetakan hutan tradisional mereka sebagai upaya strategi penceahan sekaligus menegaskan hak masyarakat adat dari proyek pertambangan atau ancaman pengembangan gas, minyak bumi, serta pertanian komersil. 

Selain Mama Aleta, pemenang lain adalah Jonathan Deal dari Afrika Selatan, Azzam Alwash dari Irak, Rossano Ercolini dari Italia, Kimberly Wasserman asal Amerika Serikat, serta Nohra Padilla dari Kolombia.

Para pemenang penghargaan Goldman dipilih oleh dewan juri internasional berdasarkan nominasi rahasia yang diserahkan oleh jaringan kerja organisasi-organisasi dan orang-orang dalam bidang lingkungan hidup.

Selasa, 16 April 2013

Kakek 69 Tahun Ikut Ujian Kejar Paket C

TEMPO.CO, Depok - Usaha mengejar ilmu memang tak mengenal usia, seperti sebuah ungkapan "kejarlah ilmu sampai ke liang lahat". Begitulah yang dilakukan Abdullah Sani, 69 tahun, salah seorang peserta ujian Paket C di perguruan Yayasan Pendidikan Islam Al-Muhajirin Depok. Sani--sapaan akrabnya--mengaku masih bersemangat mengejar ijazah Paket C, karena ia ingin meneruskan kuliah untuk memperoleh gelar sarjana.


"Selama ini saya selalu ditawarin ngajar, tapi kan harus S-1 dulu, jadi saya niatnya mau kuliah," kata Sani saat ditemui wartawan di Yayasan Al-Muhajirin tersebut, Senin, 15 April 2013.


Berkemeja putih dan celana hitam, Sani terlihat santai menunggu pelaksanaan ujian di koridor ruang ujian nomor 22 di lantai dua gedung sekolah. Sani mengaku telah siap menjalani ujian. Agar tidak kaget, Sani telah berlatih mengerjakan soal ujian Paket C untuk periode tahun sebelumnya. Hal itu terus dilakukan sejak tiga tahun lalu. 


Dia juga mengaku sering membaca buku-buku pelajaran sebagai persiapan ujian. Namun, karena usia yang tergolong renta, Sani kerap lupa materi yang telah ia pelajari. "Daya ingat sudah mulai berkurang," katanya.


Meski begitu, semangat belajar Sani tak pernah surut. Warga Jalan H Iming RT 1 RW 2, Keluaran Beji, Depok itu tetap bersemangat belajar dan berlatih mengerjakan soal. Apalagi pada jelang pelaksanaan ujian beberapa pekan ini. Namun, dia mengaku karena usianya yang tak bugar, dia membatasi waktu belajarnya. "Ya kalau udah cukup (capek), saya berhenti," kata kakek dari tiga cucu ini.

Semangat Sani memang patut dijadikan contoh bagi siswa-siswi yang tengah menuntut ilmu. "Yang muda harusnya bisa lebih semangat lagi dari saya," katanya. Menurut dia, ilmu sangatlah penting dan tidak bisa dibayar dengan apa pun. Karena itu, dia ingin menularkan semangatnya kepada semua peserta ujian itu. "Harus tetap semangat. Namanya pendidikan kan penting. Ilmu harus terus dikejar," katanya.

Hari ini, Sani bersama ribuan peserta ujian lainnya mengikuti ujian nasional untuk Paket C di Perguruan Al-Muhajirin, Depok. Mereka akan mengerjakan soal dari dua mata pelajaran, yaitu, Bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaraan. Ujian dimulai pukul 13.00 sampai menjelang magrib.

Menurut Sekretaris Panitia Pelaksana dan Pengawasan UN Kota Depok, Badruddin, ada 4-5 orang yang umurnya lebih dari 50 tahun yang ikut ujian. "Iya, kami sih tak tahu apa motivasi mereka. Itu bisa ditanyakan langsung," katanya sebelum ujian dimulai. Adapun total peserta yang mengikuti ujian Paket C tahun ini sebanyak 1.828 orang.

ILHAM TIRTA